Saturday, January 07, 2006

Diari Hatiku

Melihat wajahmu...
Imbasan kenangan semalam membanjiri ingatanku,
Melemaskan jiwaku,
Menyesakkan nafasku.
Ingin ku ukirkan sekuntum senyuman buatmu
Senyuman nan istimewa, nan terindah
Yang telah lama ku pendamkan
Semenjak kita berpisah...

Tiba-tiba aku tersedar dari lamunan!
Kenangan semalam bertukar menjadi mimpi,
Mimpi ngeri yang meluputkan segala memori
Tatkala ia dipancarkan dengan cahaya realiti.
Semalam hanya semalam...
Ia tak mungkin kan kembali...

Sekarang kita hanya bertentangan
Dengan seribu andaian,
Sejuta persoalan,
Yang mungkin tiada jawapan.
Mungkinkah masih terselit secebis harapan?
Namun... Usahlah kau bertanya!
Karna aku tidak bisa menjawapnya!

Hari ini
Walau engkau di hadapan ku
Kenapa engkau masih ku rasa jauh?
Mungkinkah... Kita sudah terlalu lama terpisah?
Mungkinkah... Kita tidak pernah mengimpikan saat ini?
Mungkinkah.. Kita sudah jauh berbeza?
Atau mungkinkah kita sudah terlalu dalam ditelan waktu?
Adakah pemisah antara kita semakin tebal?
Atau adakah pemisah ini hanya diriku yang ingin dipisahkan darimu?
Apakah benar kita sudah terlanjur meninggalkan impian lalu?
Atau diriku yang sengaja menjauhkan diri darimu?

Usah kau maju lagi!
Karna sudah teramat sukar untukku membatasi diri
Batinku sedang meronta ronta meminta kebebasan
Meminta untuk dilepaskan ke pelukanmu
Yang sangat aku dambakan.
Pelukan sama yang dulu menghangatkan jiwaku,
Kucupan mesra yang dulu mampu menyentuh naluri kewanitaanku.
Tiba- tiba... Aku teringat akan takdir...
Takdir yang sekali lagi telah menemukan...
Dengan nama takdir juga dulu kita dipisahkan...
Sekarang... Takdir juga yang mengingatkan
Bahwa hari ini bukan semalam...

Jangan soalkan sumpah setiaku dulu,
Jangan tanyakan kemanakah hilangnya cintaku!
Hakikatnya, apa yang akan ku ucapkan
Mungkin tidak ingin engkau dengarkan
Jauh sekali mengertikan.
Hari ini bukan semalam.
Tapi esok... Esok adalah kesinambungan hari ini.
Jadi tinggalkanlah semalammu,
Dakaplah esokmu.
Karna aku disini hanya untuk sementara waktu...
Selagi diizinkan.
Selagi ditakdirkan.
Selagi ku berupaya.
Selagi diriku mampu.

Sebak didada mengiringi jejak langkahku
Yang semakin meninggalkanmu.
Biarkan aku terus berlalu
Dan teruslah engkau disitu.
Pintaku usah kau tanyakan kenapa dan mengapa
Karna ku pasti aku tiada jawapannya!
Dan disaat aku melangkah pergi
Tolong hentikan soalan-soalan mu ini!
Seikhlasnya, aku hanya inginkan yang terbaik buatmu
Dan jujur saja aku bukan itu!

Engkau tanyakan pernahkah aku menyintaimu dengan tulus,
Aku hanya mampu menjawap "tidak sesaat pun"
Aku tidak tahu reaksi mu karna aku tidak mahu memandang wajah itu
Percayalah... Menyakiti hatimu bukan kemahuanku...
Namun... Demi yang terbaik...
Aku menahan sebak di dada...
Di sini... Aku berjanji tidak akan menoleh lagi...

Yang ku tinggalkan hanya kenangan
Yang ku mahukan hanya ketenangan
Yang ku tebarkan hanya kepalsuan
Yang ku rindukan hanya kebahgiaan...

Usahlah engkau bertanya lagi,
Karna jawapannya akan engkau ketahui.
Dan aku...???
Aku akan terus mengorak langkah.
Hingga ku sampai ke akhir destinasi ku
Yang pastinya tidak lagi jauh.
Dan sepanjang perjalanan itu
Aku kan terus mengingatkan diri
Yang semalam hanya semalam,
Hari ini bukan semalam,
Dan esok.....
Esok...
Mungkinkah ada esok untukku???


SHIKIN MOHAMAD
@12 mn - 1 am
6th Jan 2006
Friday
* Was About to Sleep When Suddenly I Got Inspired *

The poem (or whatever you called it lah!) is based on a story of two estranged lovers when the girl suddenly decides to dump the guy and leave the country after she found out she was suffering from an illness. Years passed, and the guy who was convinced that his lover will never come back and explain things to him, decided to move on with his life. Subsequently, he got married and have a family of his own. However, not a single day in his life, has he not think about his ex-lover. Seven years after the separation, a twist of fate brought them together when they accidentally met each other at their favourite dating venue. He had heard she returned, but didn't believe it. After all, she said, she's leaving for good.

At that particular point (and moment!) when their eyes met again for the first time after so long.... emotions arises. For him, it was just the unanswered questions. The longing. The need for closure. The sign of a second chance to rekindle their love. For her, it's the love, the longing, the desire to touch him with her fingers, the hope that maybe.... just maybe.... it could be.... But deep down she knew... it was impossible.... Her condition is worse now... And he does have a family. They have an invincible barrier and if she were to take that first step, it would be too late to undo that mistake. So instead of answering his questions and fulfilling her longing and desire, she stood there still, with a straight face listening to him rattle on and on, listening to his contnious questions...before she realises that it was time for her to move away. As she did, the guy begged her to answer at least one question - did u EVER love me? She answered what she had to answer and that is - "not a second.."

But in her heart, she knew the truth. She knew he was the only true love. But fate has its own mysterious way. now, she's just passing time, day by day, with all the leftover strength and courage she can muster and awaits her upcoming death...

This is what the poem is all about. It's what her heart is saying and trying to convey to the guy. It's what her true feelings are. It's what if she could verbally express will be. It's her inner diary.






Posted by DiStUrBeD AnGeL at 1:54 AM